Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat setia Nabi SAW.  Abu Bakar lahir dengan nama Abdullah bin Abu Quhafah 21 Jumadil Akhir 13 H atau 23 Agustus 634 masehi. Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Quraisy. (republika.co.id). Jika dihitung dengan tahun Gajah, beliau lahir pada tahun kedua dari tahun gajah atau dua tahun lebih muda dari Nabi SAW. Abu Bakar masih memiliki hubungan kerabat dengan Nabi Kekerabatannya bertemu pada kakek buyut beliau Murrah. Beliau sudah berteman dekat dengan Nabi SAW sejak muda. Dia sangat mengenal Nabi SAW begitu juga sebaliknya. Hingga, tidaklah sulit baginya untuk mempercayai kerasulan sahabatnya, Muhammad SAW tersebut. Beliaulah laki-laki dewasa pertama yang menyatakan keislamannya kepada Nabi SAW. Menurut suatu riwayat atas dasar itu pula dia diberi oleh Nabi SAW gelar ash-shiddiq, orang yang benar.  Hal ini dapat dilihat dari hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:

“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)” (muslim.or.id)

Pertemanan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Nabi SAW betul-betul istimewa. Hingga, apa pun persoalan yang dihadapi Nabi SAW, selalu dibaginya dengan Abu Bakar. Seperti ketika datang perintah untuk hijrah, kepada Abu Bakar lah pertama kali disampaikan oleh Nabi SAW. Dengan Abu Bakar pula Nabi SAW berangkat hijrah menuju Yasrib. Perjalanan menuju Yasrib yang memakan waktu kurang lebih seminggu, dilewati oleh keduanya dengan segala Suka dan duka. Begitu juga ketika sampai di Yasrib. Ketika Nabi SAW sakit, dialah yang disuruh untuk menjadi Imam shalat menggantikan beliau.

Baca pula: Abdurrahman Bin ‘Auf: Saudagar Kaya Yang Dermawan

Persahabatan dan kesetiaan Abu Bakar kepada Nabi SAW adalah sejati. Atas dasar ini pula, Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin sepakat menobatkannya menjadi khalifah pengganti Nabi SAW. Sebagai khalifah ia sangat masyhur dengan kemauan keras dan keteguhan hatinya. Ia juga sangat dermawan, rendahati, berani, dan cerdas. Dalam pemerintahan dia sangat kuat. HAMKA dalam bukunya Sejarah Umat Islam, menulis, “kerasnya tak dapat dipatahkan dan lemah lembutnya tak dapat disenduk”. Ia belum mau menjatuhkan hukum sebelum pemeriksaan memuaskan hatinya. Ia juga berpesan kepada hakim-hakimnya untuk tidak tergesa-gesa memutuskan suatu perkara. Salah menghukum seseorang hingga tak jadi terhukum, lebih baik daripada salah hukum yang menyebabkan orang yang tak bersalah sampai terhukum.

Meskipun Abu Bakar menjabat sebagai khalifah hanya 2 tahun 3 bulan 10 hari, banyak sekali persoalan-persoalan besar yang dihadapi dan atasinya. Beliau berhasil menumpas para Nabi Palsu dan pemberontak yang menolak mau membayar zakat, menaklukkan Persia, dan menaklukkan Negeri Syam atau suriah sekarang.

Abu Bakar ash-Shiddiq  wafat pada hari Senin di bulan Jumadil Awwal tahun 13 H ketika beliau berusia 63 tahun, kurang lebih dua tahun setelah Nabi SAW wafat.

Abu Bakar Ash-Shiddiq: Sang Sahabat Setia Nabi SAW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *