Menjadi pemilih yang amanah sama pentingnya dengan menjadi pemimpin yang amanah. Sayangnya, selama ini orang hanya sering membicarakan tentang pemimpin yang amanah saja, dan jarang sekali membicarakan tentang pemiilihnya. Padalah, pemilih itulah sebenarnya yang sangat menentukan diperolehnya pemimpin yang amanah tersebut. Dalam kaitannya dengan memilih pemimpin amanah dapat diartikan dengan jujur dan adil. Jujur artinya berpihak kepada kebenaran. Sedangkan adil artinya proporsional, memilih orang-orang yang diyakini akan mampu memimpin dengan baik dan membawa masyakarakatnya menjadi masyarakat yang maju. Nabi SAW bersabda pernah bersabda,

“Jika amanah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi. Ada seorang sahabat bertanya, bagaimana maksud amanah disia-siakan. Nabi SAW menjawab, jika urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya itu. (H.R. Bukhari).

Hadis di atas itu sejatinya menyasar kepada pemilih, bukan kepada pemimpin yang akan dipilih. Karena, dialah sesungguhnya pihak pemberi mandat kepemimpinan kepada orang atau calon-calon tertentu. Pemilih yang amanah adalah pemilih yang siap memberikan suaranya kepada calon yang memang memiliki kapasitas kepemimpinan yang baik, misalnya berintegritas tinggi (shiddiq), punya komitmen yang kuat (amanah), punya visi jauh ke depan (fathanah), memiliki komunikasi yang baik, baik dalam hal lobying begitu juga dalam hal memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan (tabligh). Sebaliknya, memilih atas alasan-alasan primordial atau juga pragmatis,  misalnya memilih karena punya hubungan kekerabatan, karena sekampung, dan atau karena diberi uang, bukan karena kapasitas atau keahliannya, merupakan tanda tidak amanahnya pemilih tersebut.

Sebentar lagi akan ada helat pemilihan kepala daerah serentak di seluruh Indonesia, baik pemilihan gubernur begitu juga pemilihan bupati dan wali kota. Tentu saja diharapkan pemilihan itu berlangsung secara jujur dan adil. Untuk pemilih yang tidak jujur dan adil ini bagi mereka sebenarnya ada pertanggungjawaban, tidak hanya di dunia juga di akhirat. Di dunia, mereka akan menerima imbas dari kehancuran atau kerusakan yang dibuat oleh pemimpin yang dipilihnya, sebagaimana hadis Nabi SAW di atas. Sedangkan di akhirat ia akan mempertanggungjawabkan dosa karena ketidakamanahannya. Mereka yang tidak memilih secara jujur dan adil itu (sebagai pemilih yang baik), dalam kaca mata agama juga biasa disebut sebagai khiyanat. Artinya, melakukan sesuatu di luar yang seharusnya dia lakukan. wallahu a’lam

Amanah Dalam Memilih; Upaya Menjadi Pemilih Yang Baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *