Arab yang selalu dilanda krisis dan perang saudara yang berkepanjangan, secara langsung atau tidak, telah melahirkan stigma negative tentang Arab. Hingga, dikalangan ilmuan Islam sering muncul pemikiran untuk memisahkan Arab dan Islam. Sementara, memisahkan keduanya bukanlah perkara yang mudah. Karena, keduanya, baik secara ideologis begitu juga historis, telah berjalin berkulindan (rmco.id)

Cak Nur atau Nurchalis Madjid, rahimahullahu anhu, pernah menulis sebuah tulisan dengan judul, “ Mengikis Kesalahpahaman Terhadap Bangsa Arab”. Menurutnya Pengaruh peradaban Arab dan Islam dalam peradaban modern yang tumbuh “kebetulan” melalui Eropa sekarang ini sangatlah besar. Mengutip Edwar W. Said, seorang nasionalis Arab dari lingkungan Kristen Palestina, Cak Nur mengatakan, bahwa sangat banyak peristilahan-peristilahan bangsa tersebut dijumpai dalam bahasa-bahasa Barat, baik yang digunakan dalam ilmu pengetahuan modern, maupun di bidang peradaban dan pola kehidupan tingi lainnya. Hingga, apabila dimunculkan pertanyaan, dari mana asal mula peradaban itu? Jawabnya yang paling pasti ialah bahwa semua itu bermula dari tampilnya Nabi Muhammad SAW. Tapi, itupun akan mengundang pertanyaan berikutnya, mengapa dan bagaimana Nabi Muhammad SAW dan agama Islam itu tumbuh dan berkembang sedemikian suksesnya, melebihi kesuksesan yang pernah dicapai oleh Nabi-Nabi dan agama sebelumnya. Ini pun, kata Cak Nur, dapat dijawab dengan cukup pasti karena Bangsa Arab.

Masih kata Cak Nur, Abdurrahman al-Bazzas, dalam tulisannya yang berjudul “Islam dan Arab Nasionalism,” menuding para penulis sejarah Islam sebagai yang paling bertanggung jawab dalam memberikan gambaran yang salah tentang Arab pada saat Nabi Muhammad SAW diutus. Al-Bazzas juga menuduh bahwa gambaran yang buruk tentang orang-orang yang menghuni daerah padang pasir ini sebelum islam itu datang dari celah-celah timbulnya semangat golongan (shu’ubiyah), yaitu gerakan dari orang-orang muslim non Arab, khususnya Persia untuk menangkal Arabisasi.

Baca Juga: Nabi Muhammad SAW Sang Pemimpin Agama dan Negara

Sejajar dengan apa yang ditulis oleh Al-Bazzas, Muhibb al-Din al-Khatib juga pernah menulis, “ tidak dapat diragukan bahwa bangsa Arab adalah penyembah berhala. Tapi, mana dari kalangan bangsa-bangsa lain yang ada pada waktu Islam itu muncul yang bukan penyembah berhala dalam berbagai pengertiannya? Orang-orang Arab sendiri sebenarnya adalah bangsa paling akhir yang menyembah berhala. Sebelumnya, mereka adalah penganut faham al-hanifiyah, ajaran Ibrahim dan Ismail. ….Sehingga, mereka lah sebenarnya yang paling dekat kepada fitrah. Karena itulah mereka berhak atas pujian Tuhan kepada mereka dalam surat al-Baqarah ayat 143, yang artiinya, Katakanlah, Kami jadikan kamu sekalian ini golongan penengah, agar supaya kamu menjadi saksi atas sekalian umat manusia, sebagaimana Rasul menjadi saksi atas kamu…”

Dengan demikian, sulit sebenarnya memisahkan Arab dengan Islam. Dan sepertinya tidak cukup alasan untuk meletakkan stigma negative terhadap bangsa tersebut hanya dengan alasan seringnya terjadi konflik dan perang di kawasan itu. Karena, konflik dan perang juga terjadi pada bangsa-bangsa lain di dunia. Seperti yang dikemukakan oleh George Simmel (1904) “a vis pacem para belum,’ yang artinya, Jika menghendaki perdmaian, bersiaplah untuk perang. Ungkapan ini secara tidak langsung mengandung arti bahwa antara konflik dan integrasi akan berjalan secara berkesinambungan. Hingga, tak ada satu bangsa pun di dunia yang tak pernah dilanda konflik atau peperangan.
Wallahu a’lam

Note, Sumber, Kaki Langit Peradapan Islam, by Nurcholish Madjid

Arab dan Islam: Dua Entitas yang Tak Bisa Dipisahkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *