Bulan Purnama

Bulan dan matahari merupakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya menjadi dasar penghitungan waktu. Penghitungan waktu berdasarkan bulan disebut tahun qamariyah. Sedangkan penghitungan waktu yg didasarkan kepada matahari disebut tahun syamsiyah. Satu tahun qamariyah lebih pendek 11 hari dari tahun syamsiyah.

Selain itu, dalam ilmu ushul fiqh, keduanya juga menjadi sebab adanya kewajiban melaksanakan ibadah-ibadah tertentu. Tibanya bulan ramadhan, menjadi sabab diwajibkannya puasa, tergelincir matahari menjadi sabab wajibnya shalat zhuhur. Sebagaimana FirmanNya, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah, Ayat 185). Juga, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS. Al-Isra’ (17) : 78) (ramaysho.com)

Baca juga Ruang dan Waktu Kita: Suatu Renungan Kehidupan

Demikianlah bulan dan matahari, secara bersama-sama menjadi dasar bagi adanya ibadah-ibadah tertentu. Namun, ada yg menarik, ibadah-ibadah tertentu yang membutuhkan waktu lama dan berhadapan dengan musim-musim tertentu, dingin, panas, salju, dan semi, seperti ibadah puasa, dan haji, Allah tidak mendasarkannya kepada matahari, melainkan kepada bulan. Mungkin, karena, matahari mempengaruhi iklim secara tetap. Sementara bulan tidak demikian. Kalau saja, puasa itu diwajibkan pada bulan yg didasarkan kepada peredaran matahari, misalnya setiap bulan Desember, akan dijumpai sebagian orang islam di belahan bumi tertentu selalu puasa di musim dingin, begitu juga orang islam di belahan bumi lain akan selalu berpuasa di musim panas dan seterusnya. Begitu juga ibadah haji, kalau ditetapkan berdasarkan perjalanan matahari, kaum muslimin yg menunaikannya selalu berada pada suatu iklim tertentu yang belum tentu cocok untuknya.

Nurchalis Madjid, Allahu yarham, mengatakan inilah mungkin hikmahnya Allah memerintahkan puasa berdasarkan pergantian bulan. Begitu juga ibadah haji. Hingga, setiap muslim dapat melaksanakannya pada berbagai musim secara bergantian. Dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 189 Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu ( Muhammad) tentang bulan sabit, katakanlah bulan sabit itu tanda-tanda waktu dan (waktu) haji…..(al-ayah). Wallahu a’lam.

Bulan dan Matahari: Dua Tanda Kekuasaan Allah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *