Hijrah sejatinya bukan sekedar perpindahan dari satu daerah atau kota ke daerah atau kota lain. Sebagaimana Nabi SAW dahulu, beliau tidak sekedar pindah dari Mekah ke Medinah, melainkan pindah dengan membawa misi peradaban. Selama kurang lebih 13 tahun di Mekah, Nabi SAW tak begitu sukses dalam mengembangkan misinya tersebut. Penduduk kota Mekah tampaknya masih merasa nyaman dengan faham syiriknya juga kehidupan sosial mereka yang cenderung diskriminatif.

Nabi SAW datang ke Yasrib membawa misi peradaban tersebut. Tak lebih lama dari di Mekah, dalam rentang waktu kurang lebih 10 tahun, Nabi SAW berhasil membangun sebuah peradaban baru, yaitu sebuah masyarakat yang bertauhid dan masyarakat yang egaliter. Hingga, sekalipun tak semua penduduk Yasrib berhasil diislamkan oleh Nabi SAW, mereka dapat hidup dengan damai. Adalah pengakuan Nabi SAW terhadap keberadaan mereka, Yahudi dan Nasrani, yang membuat mereka kemudian ikut mendukung Nabi SAW dalam membangun peradaban baru tersebut.

Keberhasilan dakwah Nabi SAW di Yasrib ditandai dengan berdirinya sebuah negara kota yang bernama Madinah (sebagai ganti Yasrib). Madinah sendiri berarti madaniy atau berperadaban. Berbeda dengan masyarakat sipil (civil society) yang mengedepankan peran aktif masyarakatnya, masyarakat Madani menjadikan ketuhanan tauhid sebagai penggerak interaksi antar anggota dan energi dalam usaha-usaha pembangunan masyarakat yang berorientasi mencapai keadaban dan peradaban serta keselamatan hidup dunia dan akhirat.

Momentum tahun baru Hijriyah ini selayaknya dapat mengingatkan kita, betapa sesungguhnya Nabi SAW dengan hijrahnya telah berhasil membangun sebuah peradaban baru. Peradaban yang bebas dari paham syirik dan bebas dari kehidupan yang diskriminatif.

Dan sebagai umat yang mencintai Nabi SAW, tugas kita tentu saja mengikuti dan menjaga apa-apa yang telah diperjuangkannya yakni menjaga tauhid dan hidup dengan sistem egaliter, adil, dan tidak diskriminatif. Berlaku sebaliknya, nyaman dengan faham-faham syirik, feodalistik, dan koruptif adalah merusak nilai-nilai hijrah yang sudah dibangun Nabi SAW dengan susah payah. Apalagi, berlaku sebagaimana lagu budayawan kondang Ebied G Ade, “bangga dengan dosa-dosa”, tentu saja bukan peradaban yang dicapai, malah sebaliknya kehancuran yang didapat. 

Karena itu, tahun baru hijriyah kali ini, 1442 H, dapat dijadikan sebagai momentum untuk membangun sebuah peradaban baru, Indonesia yang maju, Indonesia yang bebas dari korupsi dan diskriminasi, Indonesia yang adil dan beradab. []

Hijrah Substantif: Menuju Peradaban Baru
Ditag pada:                    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *