Lahan Kuburan di Jakarta Kritis, Jasad Ditumpuk Bisa DibolehkanKematian itu ternyata sementara. Kehidupanlah yang abadi. Kehidupan manusia itu bermula dari kematian. Ada dua kali kematian yang dilalui oleh manusia menjelang sampai kepada kehidupan yang abadi. Kematian yang pertama terjadi menjelang kelahiran dan kematian kedua merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Hal yang semacam itu dijelaskan oleh Allah dalam Q.S. Al Baqarah, 2: 28, yang artinya, “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan”. Kesementaraan kematian itu juga dijumpai ketika ulama menafsirkan Q.S al-Mulk, 67: 2, “(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. Disebutkannya “mati” di awal oleh Allah, menurut ulama karena kehidupan memang bermula dari kematian. Juga karena matian itu hanyalah jembatan menuju kehidupan yang abadi. (republika.co.id)

Baca juga Taqwa: Pengurai Masalah Kehidupan

Namun demikian, kalangan materialisme memandang sebaliknya, kehidupan itulah yang bersifat sementara. Sedangkan kematian adalah abadi. Sama dengan orang-orang kafir yang tidak mempercayai adanya kehidupan di kampung akhirat. Banyak sekali ayat-ayat yang menceritakan bagaimana orang-orang kafir mempersoalkan adanya hari berbangkit dan kehidupan akhirat. Antara lain, Q.S. an-Namal:67, “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; apakah sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)? Keraguan mereka tersebut dijawab oleh Allah dalam Q S. Yasin, 36: 77-80, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Tuhan Yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” Demikianlah kematian itu. Ia bersifat sementara. Kehidupan lah yang sesungguhnya abadi.

Kematian Itu Ternyata Sementara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *