Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat egaliter dimana pemimpinnya hanya didahululakn selangkah dan ditinggikan seranting. Selain itu kepemimpinan di Minangkabau lebih bersifat sosiokultural. Hingga, mencari pemimpin di Minangakabu tidak sama dengan sekedar mencari kepala daerah. Karena, kepala daerah lebih bermakna administratif teritorial, dengan kriteria dan syarat-syarat formal yang jelas. Sementara pemimpin itu, lebih bersifat sosio-kultural dengan syarat-syarat yang sangat abstrak dan substansial. Itu barangkali sebabnya, sudah banyak kepala daerah yang menjabat di propinsi Sumatera Barat ini, tapi tak banyak di antara mereka yang berhasil menjadi pemimpin bagi masyarakatnya, masyarakat Minangkabau. Mereka yang berhasil menjadi pemimpin di Minangkabau, habis pun masa jabatannya, seperiode atau dua periode, namanya tetap dikenang. Bahkan, telah lama meninggal pun, namanya tetap disebut. Berbeda dengan kepala daerah (dalam hal ini gubernur), habis masa jabatannya, satu atau dua periode, hapus pula namanya.
Masyarakat Minangkabau sekarang sejatinya bukan sekedar memilih kepala daerah, tapi mencari pemimpin. Karena itu, mesti dilakukan dengan pemikiran yang matang dan hati yang jernih. Untuk itu, karena masyarakat Minang adalah masyarakat maju dan kuat dalam adat dan agama Islam, aspek profesionalitas, adat, dan agama calon perlu menjadi pertimbangan. Dengan kata lain, pemimpin yang dicari itu tak cukup hanya sekedar bergelar penghulu atau datuak saja, melainkan perlu taat beragama dan memiliki kemampuan professional. Begitu pula, tak cukup hanya sekedar ustadz atau buya saja, melainkan harus mengerti adat istiadat Minangkabau serta memiliki kemampuan professional. Begitu pun, pemimpin Minangkabau ke depan tidak cukup hanya seorang profesional saja, tetapi mesti beradat dan beragama.(opini.id)
Dalam keadaan sulit menemukan pemimpin yang ideal sebagaimana yang penulis kemukakan di atas, dalam urusan politik dan pemerintahan semacam ini, saya cenderung melihat kepada aspek profesionalitasnya, tentu saja dengan tidak mengabaikan aspek adat dan agamanya. Karena, bagaimana pun, masyarakat Minang secara umum adalah masyarakat yang kuat memegang adat dan agama. Siapa pun calonnya sedikit banyaknya, pasti memiliki nilai-nilai adat dan agama dalam dirinya. Apalagi, bila diperhatikan hampir semua calon-calon pemimimpin di Minangkabau yang muncul sekarang memiliki gelar Datuak atau Pangulu semuanya. Hingga, yang menjadi pertaruhan sekarang bagi calon pemimpin adalah seberapa besar kapasitas atau kemampuan profesionalnya, kemampuan lobi dan diplomasinya, baik di tingkat nasional begitu juga internasional.
Kalau pun hal ini dikembalikan kepada hadis Nabi, akan dijumpai sabdanya, antum a’lamu bi umuuri ad-dunyaakum, kamu tentu lebih mengerti dengan persoalan kamu. Tapi, jangan pula diserahkan kepada yang tidak punya kapasitas atau keahlian. Sebab, Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW): “Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya: ‘Bagaimana maksud amanah disia-siakan?’ Nabi menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Al-Bukhari). Wallahu a’lam a’lam
Masyarakat Minangkabau Mencari Pemimpin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *