Sjech Muhammad Jamil Jaho (1875–1945 M) adalah tokoh ulama yang unik. Beliau bersama dengan sahabatnya Sjech Abdul Karim Amrullah, sangat berjasa dalam pendirian dan perkembangan persyerikatan Muhammadiyah di Padang Panjang dan sekitarnya dan juga dalam pendirian Perguruan Thawalib Padang Panjang, yang keduanya merupakan organisasi ulama kaum muda. Bersamaan dengan itu, dengan sahabatnya yang lain, Sjech Sulaiman al-Rusuli, beliau merupakan tokoh penting dalam  pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang merupakan organisasi kaum tua.

Syeikh Jamil Jaho (Sumber : langgam.id)

Menariknya, Sjech Muhammad Jamil Jaho meskipun berperan dalam pendirian dua organisasi kaum muda tersebut, beliau tidak menerima ijtihad dan mengharuskan taqlid, sementara dalam kategori yang dibuat oleh Deliar Noer ijtihad adalah kriteria penting dari kaum muda. Di lain pihak, meskipun kemudian dia bergabung dengan ulama kaum tua, beliau tetap menolak tarekat yang merupakan bagian penting pula dari paham dan praktek keagamaan ulama Kaum Tua.

Dalam bidang ilmu keagamaannya, Sjech Muhammad Jamil Jaho juga terkenal sebagai seorang ulama yang memiliki ilmu yang mumpuni. Ia pernah belajar di Makkah dengan ulama-ulama terkenal dari berbagai mazhab fiqh yang utama, Malikiy, Syafi’iy, dan Hanbaliy. Dan yang penting pula untuk dicatat bahwa ia berangkat ke Makkah bukan dengan “tangan kosong”. Jauh sebelum berangkat ke Makah, beliau telah berguru ke banyak ulama di tanah kelahirannya, Minangkabau.

Selain aktif mengajar di halaqah dan madrasah yang didirikannya, ulama besar ini juga seorang penulis. Banyak karya-karya monumental yang dihasilkannya. Karyanya tersebut antara lain adalah Tadzkiratul Qulub fil Muraqabah ‘Allamul Ghuyu. Buku ini kemudian dipakai menjadi buku pegangan dalam pelajaran akhlaq atau tasawuf pada madrasah-madrasah miliki Perti.

Kelahiran dan Asal Usul

Sjech Muhammad Jamil Jaho lahir pada tahun 1875 di sebuah kampung kecil yang berhawa sejuk yang bernama Jaho. Jaho yang merupakan kampung kecil itu terletak di Bukit Tambangan, antara wilayah perbatasan Padang Panjang, dan Tanah Datar, Minangkabau (Sumatera Barat). Ayahnya bernama Datuak Garang, sedangkan ibunya bernama Umbuik. Baik, ayah begitu juga ibunya merupakan orang-orang yang terpandang di kampungnya, baik dalam adat dan agama. Sebagai tokoh adat, Ayahnya bergelar Datuak Garang, seorang penghulu atau pemimpin dalam kaumnya. Sedangkan sebagai tokoh agama, Datuak Garang, pernah menjabat sebagai Qadhi Nagari Tambangan, suatu jabatan keagamaan yang cukup prestisius kala itu.

Muhammad Jamil Jaho muda dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kuat memegang adat dan taat dalam menjalankan agama. Hingga, dari kecil nilai-nilai adat dan nilai keagamaan itu telah tumbuh dan berkembang dalam dirinya. Ini pula barangkali sebabnya tidak susah bagi seorang Djamil muda untuk belajar memahami ilmu-ilmu agama dan adat istiadat yang berlaku di negerinya.

C. Mulai Belajar dan Menuntut Ilmu

Jamil Jaho muda pada mulanya belajar dengan ayahandanya yang ahli dalam bidang adat dan alim dalam bidang ilmu agama. Dari ayahnya, Jamil muda belajar Alquran dan kitab perukunan (kitab-kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab). Jamil muda yang giat dan rajin itu pada usia 13 tahun telah hafal al-quran dan dapat memahami kitab perukunan tersebut dengan baik. Dari ayahnya pula Jamil mulai belajar kitab-kitab kuning atau kitab-kitab standar berbahasa arab. Mungkin karena kecerdasannya pula, tak butuh waktu lama bagi Jamil untuk dapat membaca dan memahami kitab-kitab kuning tersebut. Bahkan, Djamil diketahui sudah pandai berbahasa Arab baik lisan maupun tulisan dalam usia yang sangat muda.

Berbekal dengan ilmu yang telah diajarkan ayahnya, Jamil kemudian melanjutkan pelajarannya kepada Syekh Al-Jufri di Gunung Raja, Batu Putih, Padang Panjang. Kemudian, kepada Syekh al-Ayubi di Tanjung Bungo, Padang Ganting. Tamat dari Padang Gantiang ini sekitar tahun 1893 M. Sjech al-Ayubi ini merupakan seorang ulama fiqh mazhab syafii. Di halaqah Sjech al-Ayubi ini Muhammad Jamil berjumpa dengan Sulaiman ar-Rusuli, yang kemudian menjadi sahabat karibnya. Keduanya belajar dengan sjech al-Ayubi ini selama kurang lebih enam tahun.

Muhammad Jamil dan Sulaiman al-Rasuli, keduanya merupakan murid-murid terpandai Sjech al-Ayubi, kemudian melanjutkan pelajarannya ke Biaro, Koto Tuo Ampek Angkek Canduang, yang pada waktu itu merupakan tempat berkumpulnya ulama-ulama besar Minangkabau. Tidak hanya sampai di situ, dua sekawan ini kemudian melanjutkan pelajarannya kepada Sjech Abdullah Halaban, ahli ilmu fiqh dan Ushul Fiqh. Pada halaqah Sjech Abdullah Halaban ini, Djamil kemudian dipercaya menjadi guru atau ustadz untuk mengajar murid-murid yang lain. Selain itu, Muhammad Jamil juga sering dibawa oleh Sjech Abdullah ke majlis-masjlis pengajiannya di berbagai tempat.

Baca Juga Sjech M. Djamil Djambek : Dari Parewa ke Ulama

Pada tahun 1908, saat usianya mencapai 33 tahun, Muhammad Djamil mendapat kesempatan ke Makkah menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu agama Islam. Sebelum berangkat ke tanah suci tersebut,  Muhammad Jamil telah menikah dengan seorang gadis Nagari Tambangan yang yang bernama Saidah, yang kelak mengaruniainya dua orang puteri bernama Samsiyah dan Syafiah. Sebelum berangkat ke tanah suci pula, mamak atau paman Muhammad Jamil, Datuk Bagindo Malano memberikannya gelar pusaka “Pakiah Bagindo Malano”, sebuah gelar kehormatan dari suku ibunya. Di Makkah Muhammad Jamil berguru kepada seorang alim dan  mufti mazhab Syafii yang bernama Sjech Ahmad Khatib al-Minangkabauwi. Di majlis ini Muhammad Jamil juga berjumpa dengan Abdul Karim Amrullah, yang kemudian menjadi sahabat dekatnya. Kedua sahabat karib ini selain belajar, juga ditugasi oleh gurunya, Ahmad Khatib untuk membantunya mengajar bagi murid-muridnya yang lain.

Muhammad Djamil belajar di Makkah kurang lebih 10 tahun pula lamanya. Selama sepuluh tahun tersebut, Muhammad Djamil juga dapat berguru kepada tokoh-tokoh ulama lain di kota suci itu. Ulama-ulama tersebut antara lain  adalah Syeikh Alwi al-Maliki (mazhab Maliki) dan Syeikh Mukhtar al-Affani (mazhab Hanbali). Selama di Makkah, Muhammad Jamil juga menikah dengan seorang perempuan keturunan Sicincin Padang Pariaman yang bernama Zulkaikha. Akan tetapi, keduanya tidak berhasil mendapatkan keturunan.

Pulang Ke Jaho Minangkabau

Setelah malang melintang di Makah selama lebih kurang sepuluh tahun, pada tahun 1918 Muhammad Jamil kembali ke negeri asalnya Jaho. Pada awalnya dia hanya mengajarkan Islam kepada masyarakat melalu tabligh-tablighnya ke berbagai nagari di sekitar kampunya. Namun, pada tahun 1924 Sjech Muhammad Jamil Jaho mulai membuka halaqah pengajian yang kelak berubah menjadi Madrasah Tarbiyyah Islamiyah Jaho. Murid-muridnya pun berdatangan dari berbagai daerah Minangkabau dan Sumatera.

Selain mendirikan halaqahnya di Jaho, dua tahun sebelumnya, tahun 1922, ia juga ikut serta mendirikan Perguruan Thawalib bersama sahabatnya Sjech Abdul Karim Amrullah. Hal itu dilakukannya karena ketika itu keduanya memang sahabat karib. Hubungan keduanya mulai renggang ketika dalam suatu persoalan keduanya berdebat dan Abdul Karim Amarullah sempat melontarkan kata-kata keras dan kasar kepadanya yang dipandangnya mengganggu sarafnya. Hamka dalam bukunya Ayahku, kemudian memasukkan Sjech Muhammad Jamil Jaho ini kepada golongan ulama yang menentang Sjech Abdul Karim Amrullah.

Ketika persyerikatan Muhammadiyah mulai masuk ke Minangkabau 1925, atas propaganda yang dilakukan oleh S.Y. Sutan Mankuto, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pitalah, Sjech Muhammad Djamil Djaho kemudian masuk menjadi anggota persyerikatan tersebut bahkan menjadi pimpinan cabangnya. Bersama beliau juga ikut bergabung dengan persyerikatan yang didirikan oleh Kiyai Ahmad dahlan itu, Sjech Muhammad Zain Simabur dan Tuanku Tafakis yang ketiganya itu dikenal sebagai ulama kaum tua. Pada tahun 1927 ketika kongres 16 Muhammadiyah di Pekalongan, dua dari mereka, Sjech Muhammad Zain Simabur dan Sjech Muhammad Jamil Jaho, ikut sebagai utusan dari Pimpinan Cabang  Muhammadiyah Padang Panjang. Dalam kongres ini kemudian mereka mengetahui bahwa Persyerikatan Muhammadiyah yang belum lama mereka masuki itu memiliki paham tajdid atau menerima ijtihad. Keraguannya akan persyerikatan ini makin bertambah ketika K.H. Mas Mansyur dalam pidato iftitahnya menyampaikan akan pentingnya suatu majlis yang membidangi masalah-masalah hukum yang akan dijadikan sebagai pedoman dalam beragama oleh anggota persyerikatan pada khususnya dan umat islam pada umumnya, yakni Majlis Tarjih. K.H. Mas Mansyur juga menyerukan pentingnya  ijtihad dan menjauhi taqlid. Pandangan tersebut jelas sangat berbeda dengan pandangan Muhammad Djamil yang  menolak ijtihad dan mengharuskan taqlid.

Sekembalinya dari kongres Muhammadiyah ke 16 tersebut, keduanya tidak tampak lagi aktif di Muhammadiyah. Beliau tidak mengundurkan diri atau menyatakan keluar dari Muhammadiyah, hanya tidak lagi aktif dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Sebagai ulama besar, tulis Hamka dalam bukunya Ayahku, beliau tidak banyak mulut, mencela, memburuk-burukkan persyerikatan Muhammadiyah tersebut. Adapun kedudukan ketua cabang yang dipegangnya sebelumnya, digantikan oleh Hamka yang dalam periode itu merupakan wakil ketuanya.

Kecuali dalam masalah Ijtihad, Sjech Muhammad Jamil Jaho, tak memiliki perbedaan pandangan dengan ulama-ulama pembaharu lainnya. Bahkan dalam masalah tharekat misalnya, Muhammad Jamil memiliki pandangan yang sama dengan ulama kaum muda, yakni menentangnya.  Begitu pun dalam masalah harta pusaka, beliau lebih keras mengecamnya ketimbang ulama-ulama kaum muda. Intinya, dalam masalah-masalah pokok agama, beliau tidak berbeda pandangan dengan ulama kaum muda. Hanya, dalam masalah furu’ saja mereka sering berbeda paham atau pendapat.

Setelah tidak aktif lagi di persyerikatan Muhammadiyah, Sjech Muhammad Jamil Jaho kembali mengurusi halaqah atau suraunya. Baru seminggu beliau di rumah, suraunya sudah ramai di kunjungi oleh anak-anak muda yang akan belajar agama. Menghadapi jumlah santri yang kian banyak, Sjech Muhammad Jamil Jaho mulai menyusun halaqah dalam bentuk madrasah. Sudah ada pembagian tingkat atau kelas. Sjech Muhammad Jamil Jaho membentuk pengkaderan. Murid-murid yang dianggap pandai diangkatnya menjadi guru, sehingga terbentuklah tiga kelompok kelas yang mempunyai guru masing-masing. Di samping itu ada pula pengangkatan guru-guru yang diberi tugas memberikan mata pelajaran tertentu pada setiap kelas. Madrasah baru itu beliau beri nama “Madrasah Islamiyah”. Pada tanggal 5 Mei 1928 bersamaan dengan tanggal berdirinya Persatuan Madrasah Islamiyah di Canduang yang diprakarsai oleh Sjech Sulaiman al-Rasuli, Madrasah Islamiyah resmi menjadi Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah.

Penting pula dicatat bahwa Persatuan Madrasal Islamiyah (PMI) ini merupakan cikal bakal lahirnya Persatuan Tarbiyah Islamiyah atau PERTI pada tanggal 20 Mei 1930 M. Menurut Hamka, posisi Sjech Muhammad Jamil Jaho di PERTI ini hampir sama pentingnya dengan sang pencetus organisasi keislaman yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah itu, yakni Sjech Sulaiman al-Rusuli.

Karya-Karyanya

Sjech Muhammad Djamil Djaho, selain giat mengajar dan bertabligh, juga aktif menulis. Banyak karya yang telah dihasilkannya antara lain Tadzkiratul Qulub fil Muraqabah ‘Allamul Ghuyub, Nujumul Hidayah, As-Syamsul Lami’ah, Fil ‘Aqidah wa Diyanah, Hujjatul Balighah, Al-Maqalah ar-Radhiyah, Kasyful Awsiyah

Wafat

Syeikh Inyiak Muhammad Jamil Jaho wafat pada tanggal 2 November 1945 dan dimakamkan di dekat suraunya di Jaho.

Daftar Bacaan

Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1985

HAMKA,  AYAHKU: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera Barat, Jakarta: Uminda, 1982

https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Jamil_Jaho

https://www.nu.or.id/post/read/13788/syeikh-inyiak-muhammad-jamil jaho

https://republika.co.id/berita/q658ap440/tokoh-islam-syekh-muhammad-jaho-ulama-pembaru-dari-minang

https://tarbiyahislamiyah.id/madrasah-tarbiyah-islamiyah-jaho-di-luhak-nan-tuo/

Sjech Muhammad Jamil Jaho: Ulama Modernis-Tradisionalis

2 gagasan untuk “Sjech Muhammad Jamil Jaho: Ulama Modernis-Tradisionalis

  • Membaca,menulis tokoh masa lalu dan menganalisis berbagai pergumulan sang tokoh dengan realitas sosial masyarakat dizamannya dalam kontek minangkabau, tentu akan menginspirasi kaum intelektual muslim minangkabau khususnya dan intelektual muslim dunia pada umumnya. Karena historinya para tokoh dan ulama Minangkabau itu mendunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *