Yusuf as selain sebagai Nabi,  juga seorang pejabat Negara. Dia diangkat oleh Raja Abdul Azis, penguasa Mesir ketika itu, sebagai menteri keuangan. Raja Abdul Azis tertarik kepada Yusuf karena melihat Yusuf adalah orang yang memiliki kapasitas yang mumpuni dan berintegritas tinggi. Selain itu, Yusuf juga sangat setia kepada keluarga kerajaan di mana dia dibesarkan.

Yusuf as memiliki saudara sebanyak 11 orang terdiri dari satu taudara kandung dan sepuluh orang saudara tiri. Saudara kandungnya bernama Bunyamin, lahir dari ibu yang bernama Rahel. Sedangkan saudara-saudara tirinya bernama  Jad, Asyir, Dan, Deftail, Yasyjar, Robalen, Yahuza, Lewi, Syam’un, dan Tobel. Demikian nama-nama saudara Yusuf sebagaimana disebutkan Syauqi Abu Khalil dalam Atlas Alquran. (republika.co.id)

Sebelum diangkat menjadi pejabat, sudah banyak cobaan dan ujian yang dilaluinya. Semasa kecil dulu, dia pernah jadi korban sakit hati dan iri saudara-saudaranya karena Yusuf sangat dicintai oleh ayahandanya Ya’qub as. Dengan tanpa belas kasih, Yusuf dilemparkan oleh kakak-kakaknya ke dalam sebuah sumur tua. Beruntung ada musafir yang lewat dan menyelamatkannya. Oleh musafir tersebut Yusuf kemudian dijual kepada keluarga raja. Di istana, Yusuf tumbuh menjadi seorang pemuda tampan yang tiada bandingannya. Karena ketampanannya tersebut, permaisuri raja, Zulaikha, tergoda olehnya. Untung saja, Yusuf punya iman dan kesetiaan yang tinggi kepada keluarga kerajaan. Hingga, ia selamat dari tipu daya syaitan yang menghinggapi Zulaikha dan juga dirinya.

Baca juga: Nabi Muhammad SAW Sang Pembawa Kebenaran

Khawatir nama baik kerajaan akan rusak, betapa pun Yusuf tak bersalah, ia tetap dimasukkan oleh raja ke penjara. Bagi Yusuf sendiri, penjara bukanlah masalah baginya. Asal dia tak berbuat dosa dan melanggar ajaran Tuhannya. Kata Yusuf kepada tuhannya, “Ya Tuhanku penjara lebih aku sukai daripada mengikuti ajakan mereka. Jika aku tidak engkau hindarkan dari mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.”Q.S. Yusuf:32

Cukup banyak pengalaman Yusuf selama di penjara. Sebagai ahli takwil yang dianugerahi Allah kepadanya, dia pernah mentakwilkan mimpi dua orang penghuni penjara lain, yang masuk sesudahnya. Dan takwilnya memang benar. Yusuf juga pernah mentakwilkan mimpi sang raja. Takwil yang dijelaskan Yusuf juga tak meleset sedikit pun. Hingga, raja pun dapat mengantisipasi apa yang akan menimpa kerajaan dan rakyatnya.

Ketika semua ujian telah berhasil dilaluinya dan Raja pun telah mengetahui siapa Yusuf yang sesungguhnya, Raja pun mengangkatnya menjadi salah seorang pejabat negara. Kepada Yusuf Raja berkata, Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan jerajaan dan orang kepercayaan kami. Yusuf pun tanpa ragu menjawab, angkat saya sebagai bendaharawan negara. Sesungguhnya aku adalah orang yang berilmu dan pandai menjaga. (Istilah sekarangnya mungkin memiliki kapasitas dan integritas).

Belajar dari apa yang dialami Yusuf as. tampaknya untuk menjadi pemimpin, mestilah memiliki kematangan jiwa dan kepribadian yang kuat terlebih dahulu. Seperti yang dialami Yusuf, kesabaran, integritas, dan kapasitas yang merupakan syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, telah dimilikinya. Ia pun tak pernah memelihara rasa dendam di hatinya terhadap “lawan-lawan” yang pernah mencelakakannya. Kemudian, rupanya tak pula salah apabila seorang calon pemimpin “mengkampanyekan” dirinya, bila ia memang memiliki kapasitas kepemimpinan tersebut. Sebagaimana Yusuf as mengatakan kepada sang raja, “angkat saya sebagai menteri keuangan Anda, karena saya adalah seorang profesional yang berintegritas tinggi.

Demikian Nabi Allah, Yusuf as, seorang Rasul sekaligus birokrat. Ia merupakan sosok Rasul yang istimewa, mempu mendakwahkan agama Allah, sekaligus juga berhasil dalam mengelola keuangan negara. 

Yusuf as: Sang Nabi dan Birokrat Teladan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *